Senin, 26 November 2012

KOLEKSI PRANGKO TERMAHAL DI DUNIA



The Top 7 Most Expensive Stamps
The Top 7 Most Expensive Stamps
Bagi Anda yang tidak terlalu suka dengan perangko pasti akan berpikir dua kali, bahkan berulang kali untuk membeli salah satu koleksi perangko termahal yang ada di dunia dan banyak diburu banyak orang. Tapi lain halnya dengan orang yang suka mengoleksi perangko, tentu tak akan berpikir panjang untuk mengeluarkan sejumlah pundi-pundi uang untuk melengkapi koleksi perangko. Apa hal ini juga berlaku untuk ketujuh perangko termahal yang ada di dunia? Ketujuh perangko ini paling diburu banyak pengoleksi perangko karena langka dan harganya yang selangit. Anda pasti akan tercengang mendengar harganya. Perangko-perangko ini seharga milyaran rupiah.
1. The Three-Skilling Yellow
The three skilling yellow by google.com
The three skilling yellow by google.com
The Three-Skilling Yellow adalah perangko salah cetak terbitan pemerintah Swedia yaitu pada cetakan pertamanya tahun 1855. Di mana perangko normalnya saja (yang seharusnya berwarna biru-hijau) juga termasuk perangko langka. Three-Skilling Yellow adalah salah satu perangko terlangka dan hanya satu-satunya yang tersisa. Tahun 1984 perangko ini terjual seharga 977.500 Swiss Francs oleh David Feldman. Tahun 1990 penjualan mencapai angka satu juta dolar USD, kemudian tahun 1996 terjual seharga $ 2,3 juta atau sekitar Rp 21,85 milyar. Dan setiap kali terjual selalu mencetak record angka tertinggi sebagai sebuah perangko termahal di dunia.
2. The First Two Mauritius
The first two mauritius by google.com
The first two mauritius by google.com
The First two Mauritius Stamps (1847) adalah dua seri perangko pertama yang diterbitkan pemerintah kolonial Inggris. Hanya tersisa satu buah perangko pertama dengan kondisi unused dan tiga buah perangko kedua juga dengan kondisi unused. Tahun 1993 David Feldman melelang perangko Mauritius milik Hiroyuki Kanai menghasilkan record tertinggi. Perangko pertama yang berwarna orange terjual seharga $ 1,072,260 atau sekitar Rp 10 Milyar lebih dan yang kedua seharga $ 1,148,850 juga sekitar lebih dari Rp 10 Milyar.
3.    The Inverted Jenny
The inverted jenny
The inverted jenny
The Inverted Jenny adalah perangko Amerika tahun 1918 bergambar pesawat Curtiss JN-4 dan secara tidak sengaja tercetak terbalik; ini mungkin adalah salah cetak paling terkenal di dunia filateli Amerika. Hanya 100 perangko salah cetak yang tersisa, membuatnya menjadi salah satu perangko salah cetak paling berharga; Satu blok penuh perangko inverted Jenny terjual pada lelang Robert A. Siegel bulan Oktober 2005 seharga US$ 2,7 juta. Dan bulan November 2007 sebuah perangko inverted Jenny terjual seharga US$ 977,500 (Rp 9 Milyar). Desember 2007 sebuah perangko mint (unused/belum terpakai) dengan kondisi baik sekali terjual kepada seorang eksekutif Wall Street seharga $ 825,000 atau sekitar Rp 7,8 Milyar.
4. British Guiana One Cent Black on Magenta
British guiana one cent black on magenta by google.com
British guiana one cent black on magenta by google.com
British Guiana One Cent Black on Magenta (1856) adalah termasuk perangko terlangka dan termahal. Perangko dicetak di atas kertas kualitas rendah berwarna magenta dengan tinta hitam, dikarenakan kondisi darurat. Diketahui hanya ada satu buah yang tersisa di seluruh dunia, jadi perangko ini unik dan tidak ada lainnya lagi yang pernah ditemukan. Tahun 1980 telah dilelang kepada John Dupont seharga $ 935,000 atau sekitar Rp 8,8 Milyar.
5. U.S. Franklin Z-Grill
Us franklin z-grill by google.com
Us franklin z-grill by google.com
U.S. Franklin Z-Grill, 1867. Ini adalah perangko terlangka dari semua perangko Amerika Serikat, hanya ditemukan 2 buah yang masih tersisa. Tahun 1988 sebuah perangko “Z-Grill” 1 cent tahun 1868 terjual seharga $ 930,000 atau sekitar Rp 8,8 Milyar.
6. Hawaiian Missionaries
Hawaiian missionaries by google.com
Hawaiian missionaries by google.com
Hawaiian Missionaries, 1851 adalah perangko pertama Hawai. Karena “Hawaiian Missionaries” dicetak secara kasar dengan kertas yang tipis dan berkualitas rendah, hanya beberapa perangko saja yang berhasil diselamatkan dan merupakan perangko yang sangat langka. Nominal terendah yaitu 2 cent tahun 1851 adalah yang paling langka dari keseluruhan seri, dan hanya tersisa 16 buah. Sebuah perangko Missionary 2 cent dengan kondisi mint (unused) seharga $ 760,000 dan kondisi used seharga $ 225,000.
7. The Penny Black
The penny black by google.com
The penny black by google.com
The Penny Black, adalah perangko berperekat resmi pertama di dunia, diterbitkan Pemerintah Inggris tanggal 1 Mei 1840 dan mulai digunakan tanggal 6 Mei. The Penny Black sebenarnya bukanlah perangko yang langka tetapi termasuk perangko termahal. Total cetakan 286.700 lembaran cetak dengan 68.808.000 perangko. Sebuah perangko Penny Black unused (belum dipakai) menurut katalog Scott tahun 2001 seharga $ 3,000 atau sekitar Rp. 28.500.000 dan used(sudah terpakai) seharga $180 atau sekitar Rp 1.700.000 selembarnya.
Apakah Anda akan coba untuk berburu koleksi perangko yang harganya selangit?
Sumber: artikelasik.com

Sabtu, 17 November 2012

NED INDIE PRANGKO PERTAMA INDONESIA


Perangko Pertama di Indonesia (Ist)
Perangko Pertama di Indonesia (Ist)
JAKARTA - Perangko merupakan benda berharga di samping fungsi utamanya sebagai tanda pelunasan porto dan biaya pos. Selain itu, menjadi wahana untuk menyampaikan pesan tentang berbagai kepentingan masyarakat, termasuk carik kenangan benda pos bercetakan perangko.

Sebelum perangko tercipta, pelunasan biaya pengiriman surat dilakukan dengan membayar sejumlah uang tunai. Pembayaran secara tunai ini ada yang harus dibayar terlebih dahulu oleh si pengirim surat tapi ada pula yang harus dibayar oleh si alamat. Perangko pertama diterbitkan di Inggris pada tanggal 6 Mei 1840 yakni Penny Black, setelah itu berkembang ke beberapa negara termasuk Indonesia.

Mengingat banyaknya lalu lintas surat antara Negeri Belanda dengan negara jajahannya yang utama saat itu, yaitu Ned Indie (sekarang Indonesia), akhirnya diterbitkan perangko pertama Ned Indie pada tahun 1864 bergambar Raja Belanda waktu itu Willem III nilai 10 cent yang juga masih tanpa perforasi.

Perangko inilah yang menjadi perangko pertama di bumi Indonesia. Saat ini perangko Ned Indie pertama ini, cukup langka dan dicari oleh kolektor perangko (filatelis) untuk melengkapi koleksinya. Nilainya semakin hari semakin tinggi dan umum disebut dengan kode nama N-1 di kalangan Filatelis. Apalagi yang kondisinya masih mint-unused, yang di katalog harganya berlipat kali dari yang sudah dipakai (ada cap/ cancelation-nya), harganya bisa mencapai Rp2 miliar.

Di Indonesia perangko berkembang melalui beberapa periode yaitu:

1. Masa penjajahan Belanda
Pada masa tersebut di Indonesia telah dipergunakan perangko "Raja Willem III" yaitu pada tahun 1864. Perangko pada zaman Hindia Belanda ini berwarna merah anggur dan memuat gambar Raja Willem III dari Belanda dalam bingkai berbentuk persegi.

Pada bagian atas perangko terdapat tulisan "10 cent" dan bagian bawahnya memuat tulisan "Postzegel". Sementara di bagian sebelah kiri memuat tulisan "Nederl" dan pada bagian kanan memuat tulisan" Indie". Perangko Hindia Belanda pertama ini tidak berperforasi (tanpa gigi), dicetak di negeri Belanda (Utrecht) sebanyak 2.000.000 perangko. Gambar perangkonya dirancang oleh T.W Kaisar dari Amsterdam.

2.Masa Pendudukan Jepang
Sesudah pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada bala tentara Jepang tanggal 8 Maret 1942, Pemerintah Sipil dilakukan di bawah Pimpinan Angkatan Perang Jepang. Pada awal Pendudukan Jepang persediaan perangko zaman Belanda masih banyak. Karena perangko baru belum sempat dicetak, perangko-perangko lama tetap dipergunakan dengan membubuhkan cetak tindih yang mempergunakan huruf Jepang.

Gambar-gambar cap tersebut ada yang berupa "Binatang" seperti di daerah Aceh, ada yang berbentuk "Palang" seperti di Sumatera Utara dan ada yang berwujud "Jangkar" seperti di daerah Indonesia Timur. Cetak tindih tersebut memuat kata "Dai Nippos Yubin Kyoku".

Setelah melalui masa cetak tindih, maka pada tahun 1943 diterbitkan perangko-perangko Jepang yang bergambarkan bola dunia dengan peta kerajaan Jepang, kerbau yang sedang membajak, pantai laut dan lain-lain.

3. Masa perang kemerdekaan
Bangsa Indonesia tidak melewatkan peluang emas pada hari hari terakhir perang dunia kedua, ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dengan memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi pengambilalihan kekuasaan tidak berjalan dengan mulus, karena bala tentara Jepang tidak mau menyerahkan kekuasaan dan persenjataan mereka kepada pihak Indonesia.

Demikian pula dengan pelayanan pos, selama lebih dari sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI masih ditangani olah Dinas Pos Jepang. Baru tanggal 29 September 1945, tentara Belanda dengan membonceng tentara Sekutu yang bertugas melucuti persenjataan Jepang mendarat di Batavia. Terjadilah perang fisik yang paling berdarah dalam sejarah bangsa Indonesia karena  menelan korban lebih dari 1 juta jiwa.

Perang berlangsung sejak Oktober 1945 s.d akhir 1949. Dari sudut filateli masa tersebut sangat menarik karena ada 3 pelayanan pos yang diselenggarakan oleh dua negara yang bermusuhan di atas wilayah yang sama. Di kota-kota besar yang berhasil direbut Belanda berlangsung pelayanan pos dengan menggunakan perangko Ned-Indie. Di lain pihak daerah yang masih dikuasai oleh RI pelayanan pos diselenggarakan oleh Djawatan PTT dengan menggunakan perangko Indonesia. Perangko pertama yang dicetak oleh Pemerintaha Republik Indonesia yaitu "Memperingati Setengah Tahun Merdeka". Dalam memperingati 1 tahun merdeka, Pemerintah Indonesia menerbitkan perangko seri "Revolusi Tanpa Perekat" yang pada waktu dicetak di Jakarta.

4. Masa Demokrasi Liberal
Pada awal tahun 1950 setelah berakhirnya masa Perang Kemerdekaan, PTT Indonesia memulai lembaran baru dalam sejarahnya. Sebagai akibat taktik bumi hangus gerakan-gerakan gerilya pejuang, berpuluh-puluh Kantor Pos, Kantor Telegrap dan Kantor Telepon hancur. Hal ini merupakan tantangan bagi PTT karena dengan kejadian tersebut merupakan hambatan terhadap lancarnya usaha peluasan dan pembangunan Jawatan PTT.

Salah satu sumber pendapatan Jawatan PTT untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran eksploitasi Perusahaan adalah hasil penjualan benda-benda pos, antara lain berbagai jenis perangko, sampul, warkatpos, kartupos, kupon balasan internasional formulir-formulir dan lain-lain. Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, maka diadakan pembaharuan kontrak antara Jawatan PTT dengan N.V Joh.Enschede en Zonen di Haarlem (Negeri Belanda) untuk pencetakan perangko harga Rp1,- ke atas dalam masa 5 tahun mulai tanggal 1 Januari 1950.

Pada permulaan tahun 1950 mulai terdapat perangko: Perangko biasa seri angka (smelt) yang terbit pada tanggal 1-1-1949, Perangko biasa seri Bangunan (dengan gambar rumah dan candi) yang terbit pada tanggal 1-9-1949, Perangko Peringatan UPU seri UPU yang terbit pada tanggal 1-10-1949.
Pada awal 1950 sebagian dari sisa persediaan Perangko Seri Angka dan Seri Bangunan dibubuhi cetak tindih "R.I.S" Selama tahun 1950 diterbitkanlah perangko-perangko seperti Perangko RIS yang terbit pada tanggal 17-1-1950, Perangko Peringatan Seri Garuda diterbitkan pada tanggal 17-8-1950 dll.

6. Masa demokrasi terpimpin
Pada tahun 1959-1965 banyak juga perangko yang diterbitkan seperti Perangko Biasa, Perangko Peringatan, Perangko Istimewa dan Perangko Amal. Untuk memperingati Dekrit Presiden Soekarno tanggal 5 Juli 1959 yang menyatakan berlakunya kembali Undang-undang dasar 1945, dikeluarkanlah pada tanggal 17-8-1959 Perangko Peringatan "Berlakunya kembali UUD 1945" perangko tersebut terdiri dari 4 buah dengan harga 20 sen, 50 sen, 75 sen. Sampul Hari Pertama diterbitkan dengan harga Rp7,50,-.

Pada tanggal 26-10-1959 diterbitkan Perangko Peringatan seri Konperensi Kolombo ke II, karena terkait diadakannya Konperensi Rencana Kolombo ke II di Yogyakarta. Dalam tahun 1960 dikeluarkan Prangko Peringatan seri "Kongres Pemuda Seluruh Indonesia", tahun Pengunsi Sedunia, seri Hari Kesehatan Sedunia. "Pembasmian Malaria" dan prangko amal seri "Hari Sosial" dan perangko biasa seri Presiden dan seri Hasil Bumi. Pada tahun 1962 bertalian dengan Asian games ke IV di Jakarta tanggal 22 Agustus 1962 s.d 6 September 1962 diterbitkan seri Asian Games.

Pada tahun 1963 di antaranya diterbitkan seri Bendera Merah Putih, dan pada tahun 1964 diterbitkan seri Presiden, Transport dan Komunikasi. Selama masa Demokrasi Terpimpin ini Jawatan PTT, PN Postel, serta PN Pos dan Giro mempunyai fungsi sosial dalam pengumpulan dana bagi badan-badan sosial memberikan hasil bersih dari harga tambahan perangko-perangko amal kepada badan-badan sosial.

7. Masa Orde Baru
Perkembangan perangko di masa Orde Baru mulai tangggal 11 maret 1966 s.d akhir tahun 1980, banyak perangko yang telah diterbitkan sebagai contoh mulai dari prangko Pahlawan Revolusi yang terbit pada tahun 1966 s.d perangko Peringatan 10 Tahun Asian Oceanic Postel Training School (AOPTS) yang terbit pada tanggal 10-9-1980.

Berbagai jenis perangko telah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Semakin hari kualitasnya semakin baik dari desain maupun bahannya. Untuk dapat melihat jenis perangko-perangko yang telah diterbitkan anda dapat melihat pada Katalog Perangko Indonesia 2000.

Sumber: http://filateli.wasantara.net.id 

NEDERL-INDIE STAMP -WILLIAM III 1864



Perangko Pertama yang pernah diterbitkan di bumi Indonesia, masih di masa kolonial Belanda, perangko Ned. Indie th.1864 bergambar Raja Belanda waktu itu, Willem III.

Kalau perangko pertama di dunia diterbitkan di Inggris pada th.1840, atas gagasan Sir Rowland Hill untuk memudahkan pembayaran atas jasa pengiriman pos di masa itu, yaitu prangko bergambar Ratu Victoria yang berwarna hitam dan masih tanpa perforasi (gerigi) bernilai one penny. Perangko itu sekarang populer dengan nama Penny Black,sesuai dengan bentuk dan nilainya.
Negeri Belanda akhirnya juga menerbitkan perangko pertamanya pada th.1852,
Perangko Raja Willem III nilai 5 cent berwarna biru yang juga tanpa perforasi.

Mengingat banyaknya lalu lintas surat antara Negeri Belanda dengan negara jajahannya yang utama saat itu, yaitu Ned. Indie (sekarang Indonesia), akhirnya di terbitkan perangko pertama Ned. Indie pada th.1864 bergambar Raja Belanda waktu itu Willem III nilai 10 cent yang juga masih tanpa perforasi. Perangko inilah yang menjadi perangko pertama di bumi Indonesia.

Saat ini perangko Ned. Indie pertama ini, cukup langka dan dicari oleh kolektor perangko (Filatelis) untuk melengkapi koleksinya. Nilainya semakin hari semakin tinggi dan umum disebut dengan kode nama N -1 di kalangan Filatelis.

Jumat, 16 November 2012

PRANGKO TERMAHAL


Prangko Termahal Indonesia Dimiliki Warga Asing

SENIN, 18 JUNI 2012 | 14:24 WIB
Seri perangko peringatan Titanic dari Angola, bagian dari koleksi milik Kenneth Mascarenhas, dipamerkan di atas kapal pesiar Titanic Memorial Cruise di tengah Samudera Atlantik, Kamis (12/4). REUTERS/Chris Helgren
TEMPO.COJakarta - Ketua Umum Perkumpulan Filatelis Indonesia Letnan Jenderal Purnawirawan Soeyono mengatakan Indonesia memiliki prangko termahal, yaitu senilai Rp 20 miliar. Namun prangko tersebut sudah menjadi milik warga asing saat ini.

"Pemiliknya adalah Presiden Federation Internationale de Philatelie, Tay Peng Hian, dari Singapura," kata Soeyono dalam pembukaan World Stamp Championship Indonesia di Jakarta Convention Center, Senin, 18 Juni 2012.

Soeyono menjelaskan prangko tersebut bergambar Raja Belanda. Seluruh prangko dengan jumlah 64 carik tersebut, kata Soeyono, memiliki stempel bertuliskan ''Ngawi, Jawa Timur'', tahun 1864. Menurut Soeyono, prangko itu dihargai demikian mahalnya agar tidak lagi dibeli orang lain. Soeyono menuturkan ada orang Indonesia yang memiliki prangko seri tersebut, namun hanya secarik.

World Stamp Championship Indonesia digelar pada 18-24 Juni 2012. Kegiatan tersebut melibatkan 62 negara yang tergabung dalam Federation Internationale de Philatelie. Sebanyak 532 peserta akan mengikuti lomba filateli yang menjadi bagian pameran. Indonesia sendiri mengikutsertakan sekitar 2.000 carik prangko dalam kompetisi serta sekitar 200 carik untuk dipamerkan.

Soeyono menjelaskan, pada 2010, Indonesia ditunjuk untuk menjadi penyelenggara kegiatan tersebut. Sebelumnya, kata Soeyono, pernah ada kegiatan serupa, tetapi hanya untuk kalangan remaja. Dengan kegiatan ini, Soeyono berharap, filateli di Indonesia menjadi maju.

Soeyono mengatakan filateli di Indonesia sempat terpuruk dengan hadirnya layanan pesan pendek dari operator seluler. Menurut Soeyono, fungsi dan peran filateli pun menurun. Soeyono berharap, World Stamp Championship Indonesia 2012 bisa membangkitkan prangko sebagai benda budaya.

Meski demikian, Soeyono menyatakan yakin dengan perkembangan filateli. Soeyono menuturkan cetakan prangko saat ini semakin bagus dan variatif. Meski jumlah prangko yang diproduksi berkurang, Soeyono tak melihatnya sebagai kendala. "Semakin langka edisi suatu prangko, maka harganya semakin mahal dan keberadaannya semakin diburu kolektor," kata Soeyono.